Rabu Wekasan, Polemik Umat Muslim di Bulan Shafar.

Rabu Wekasan adalah hari Rabu di akhir bulan Shafar. Sebagian masyarakat Muslim meyakininya sebagai hari sial. Karena itu mereka berbondong-bondong melakukan ritual tolak balak. Tetapi kelompok lain menolak keyakinan ini. Inilah Rabu Wekasan, polemik umat Muslim di bulan Shafar.

Dalam kalender Islam, setiap bulan memiliki kehususan tertentu yang tidak terdapat pada bulan lain. Semisal bulan Dzulhijjah, di sana terdapat waktu husus untuk melaksanakan ibadah haji, bulan Muharram yang memiliki tanggal 10 istimewa yang disebut ‘Asyuro dan begitu pun bulan bulan yang lain.

Di antara yang telah lumrah beredar di kalangan masyarakat adalah bulan shafar, dalam bulan Shafar terdapat istilah rabu wekasan, hari ini berada pada rabu terakhir bulan shafar. Rabu wekasan terkenal sebagai hari nahas (hari celaka), sehingga masyarakat membatasi aktifitas pada hari ini seperti anak-anak dilarang keluar rumah, tidak memulai berdagang dan lain semacamnya bahkan sering kali ditemukan dalam masyarakat.

Mereka mendatangi tokoh-tokoh tertentu untuk meminta air yang dikenal dengan air rajhe’en –bahasa madura- untuk diminum. Di dalam air itu terdapat sebuah kertas yang telah ditulisi oleh sang tokoh, biasanya berupa ayatus salam alal anbiya’ seperti salamun qoulan min robbir rohim dan seterusnya, bahkan sangat benyak ditemukan pada hari ini orang-orang melaksanakan sholat tolak balak dengan berjama’ah, semuanya mereka lakukan dengan sangat yakin untuk menolak balak yang entah benar atau tidak turun pada rabu wekasan ini.

Begitulah yang terjadi dan beredar di masyarakat, sementara dalam Islam sendiri sebenarnya tidak mengenal adanya perbedaan mengenai hal tersebut, bahwa semua hari itu baik dan tidak ada hari yang mengandung musibah atau malapetaka dan lain lain. Meskipun Islam tetap menganjurkan tafa’ul dengan sebagian hari, seperti memulai belajar di hari Rabu atau bepergian di hari Senin dan Kamis. Namun merupakan sebuah kesalahan besar jika beranggapan ada hari sial karena hanya Allah swt semata yang mengatur baik-buruknya suatu takdir atau nasib bagi mahluknya.

Ada sebuah hadis yang mengatakan adanya hari sial yang penulis temukan dalam Mu’jam Al-Wasith juz 1 halaman 243 dengan redaksi demikian:

–  «يَوْمُ الْأَرْبِعَاءِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرّ

Atinya : “Hari rabu adalah hari nahas yang berkelanjutan”

Hadis diatas telah dinasakh (hukumnya tidak lagi dapat diamalkan) atau paling tidak nasakh ini berlaku kepada seseorang yang meyakini bahwa yang mendatangkan balak adalah hari yang dimaksud bukan dari Allah swt. Akan tetapi masih ada ulama yang menyandarkan sebuah atsar kepada Ibn Abbas tentang adanya hari nahas, namun ulama hadis mengatakan bahwa hadis yang dimaksud adalah dhaif bukan maudhu’.

Dalam kasus shalat tolak balak yang dilakukan pada Rabu Wekasan, sebenarnya tidak ada hadits sohih yang menjelaskan akan sholat ini. Anjuran sholat Rabu Wekasan ini datangnya dari sebagian ulamak tasawwuf  dengan konsep istihsan (menganggap baik) dengan segala ketentuannya tanpa ditopang oleh teks-teks syariat secara jelas.

Dengan demkian, ulama fiqh mengatakan shalat ini tidak boleh dilakukan dan seandainya dilakukan maka shalatnya tidak sah jika diniati demikian, akan tetapi jika niatnya shalat sunnah muthlaq kemudian disusul dengan doa setelahnya maka tidaklah menjadi persoalan untuk dilakukan.

Kaitannya dengan kasus air rajhe’en yang diyakini menolak balak itu sebenarnya adalah keyakinan yang keliru serta harus dihindari. Namun bukan masalah ketika orang-orang meminumnya dengan catatan tetap berkeyakinan bahwa yang mendatangkan balak serta menolakya hanyalah Tuhan semata, meminum air tersebut hanya sebatas tawassul dan tabarruk tanpa ada keyakinan bahwa air itulah yang menolak balak.

Walhasil sebenarnya tidak ada hari baik atau hari nahas (celaka). Semuanya datang dari Allah swt semata bukan berdasarkan pada benda atau waktu tertentu, meskipun ditemukan di sebagian keterangan  bahwa pada biasanya Allah swt memang menurunkan balak pada Rabu akhir bulan Shafar, akan tetapi sejatinya tetap murni dari allah.

Kita sebagai umat Muslim hendaknya memiliki keyakinan kuat mengenai hal ini disamping Islam juga menganjurkan ikhtiyar (berusaha) untuk menghindari semua balak dan petaka yang akan datang dengan tetap berdoa dan memohon lindungan kepada allah yang mengatur segala urusan mahluknya.

Oleh :
Solihin.
(Mahasantri Ma’had Aly Situbondo Marhalah Ula)

Pernah dimuat di harakah.id08 Oktober 2020

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *