Rahmat Allah dibalik Pandemi

Sesungguhnya kasih sayang merupakan inti dari ajaran Islam. Jika ajaran Islam terkandung dalam al-Qur’an al-Karim, maka inti dari al-Qur’an sebenarnya adalah ajaran yang ada dalam surah al-Fatihah, dan inti dari surah al-Fatihah terdapat dalam بسم الله الرحمن الرحيم . Sedangkan sari pati dari ajaran بسم الله الرحمن الرحيم terletak pada ajaran kasih sayang,  الرحمن الرحيم. Kasih sayang sebagai inti ajaran Islam juga bisa dipahami dari firman Allah dan Hadis Nabi berikut :

 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barangsiapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya (HR. Tirmidzi)

Disyari’atkannya Hari Raya Idul Fitri juga merupakan bentuk rahmat Allah pada kaum muslimin. Hari Raya Idul Fitri bersama dengan Hari Raya Idul Adlha merupakan dua hari besar ummat Islam sebagai pengganti dua Hari Raya orang jahiliyah, Hari Raya Nairuz dan Hari Raya Mahrajan. Jika orang jahiliyah larut dalam kesenangan dengan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka, maka di dalam Hari Raya Idul Fitri umat Islam diperintahkan untuk merayakan hari kemenangannya setelah melampau puasa selama sebulan penuh dengan mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih serta menunaikan zakat fitrah dan saling memohon maaf dan memberi maaf satu sama lain. Nabi ﷺ bersabda :

لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Nabi ﷺ datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda : “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri..

Imam Jalauddin as-Suyuthi  di dalam kitab “Tafsir Jalalain, mengartikan al-Rahman dan al-Rahim dengan iradatul khairi li ahlihi  (suatu kebaikan yang dikehendaki Allah untuk hamba-Nya).

Imam Izzuddin Ibnu Abdis Salam dalam kitab “Tafsirul Qur’an” membedakan al-Rahman dan al-Rahim sebagai Rahmatuhu li Ahlid Dunya dan Rahmatuhu li Ahlil Akhirah, sebagai Rahmat Kompetitif dan Rahmat Spesifik.

Rahmat Allah jauh lebih luas dari murkaNya dan Rahmat Allah meliputi segala sesutu :

 قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ ) الأعراف  : 156-157)

Rahmat Allah ada di dalam segala sesuatu. Rahmat Allah ada di tengah pandemi yang sedang melanda umat manusia hampir seluruh dunia. Jika Allah jadikan pandemi ini sebagai azab bagi orang-orang yang Allah kehendaki, maka untuk orang mukmin Allah jadikan pandemi ini sebagai Rahmat. Nabi ﷺ bersabda :

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.

Dari Aisyah Ra istri Nabi SAW. Ia berkata, ‘aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Thaun. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa Thaun adalah azab yang dikirim Allah bagi barangsiapa pun yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah menetapkannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah barangsiapa pun yang begitu wabah Thaun menjangkiti lantas ia tetap berada di negerinya dengan sabar dan ridha juga tahu bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali yang ditetapkan Allah baginya, melainkan baginya seperti pahala syahid.’ (HR A-Bukhari 3474).

Hadis ini mendorong kita untuk melihat sesuatu tidak berhenti pada sesuatu itu dengan melupakan yang menciptakan sesuatu dan mengabaikan maksud dan tujuan serta hikmahdi balik sesuatu itu.

Hadis ini juga mengajari kita untuk mampu menjadikan kelemahan sebagai kekuatan, tantangan sebagai peluang, dan azab dalam pandangan orang lain sebagai Rahmat Allah dalam pandangan kita.

Beberapa ulama telah meningglkan tulisannya tentang pandemi atau waba yang menimpa negerinya di masa itu. Sebut saja Ibnu al-Wardi penulis “Risalatun Naba’ ‘anil Waba’”, Tajuddin as-Subki juga mengaranag “Juz’un minat Tha’un”, Syihabuddin Yahya at-Tilmisani yang menulis “at-Thibb al-Masnun fî Daf’ ‘anith-Tha’un”, dan Murtadla az-Zabidi. Mereka adalah sederatan ulama yang berjuang dengan wabah dan mencari solusi sesuai kemampuan mereka dengan menulis  buku buku tentang wabah yang didekati dengan berbagai disiplin ilmu, karena ulama demikian peduli dan memberi pehartian mereka dari berbagai keahlian yang mereka mampu.

Di samping itu ada satu ulama yang dinobatkan sebagai Sulthanul Ulama pada masanya, yaitu Izzuddin bin Abdus Salam, yang menulis kitab Fawa’idul al-Balwa wa al-Mihan yang khusus mengelaborasi Rahmat Allah yang harus digapai di tengah pandemi yang sedang melanda kita dan umat manusia seluruh dunia. Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan secara ringkas 17 Rahmat Allah yamg terdapat di dalam kitab tersebut:

معرفة عز الربوبية وقهرها

Menyadarkan kita akan kemaha agung dan kemaha memaksa nya Allah

معرفة الذلة العبودية وكسرها

Menunjukkan kita akan ketakberdayaan dan takluknya manusia di hadapan Allah

وبشر الصابرين الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون

الاخلاص لله تعالي

Keikhlasan kepada Allah

وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء

الابانة الي الله والاقبال عليها

Kembali dan menghadap hanya kepada Allah

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

التضرع و الدعاء

Tunduk dan berdo’a hanya kepada Allah

وإذا مس الإنسان الضر دعانا

الحلم عمن صدرت عنه المصيبة

Santun terhadap orang yang ditimpa musibah

العفو عن جانيها

Memaafkan terhadap orang yang melakukan kejahatan terhadapnya

والعافين عن الناس والله يحب المحسنين)آل عمران : 134 )

dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim )Surat Asy-Syura Ayat 40

الصبر عليها

Sabar terhadap musibah

 

الفرح بها لاجل فوائدها

Gembira dengan musibah dikarenakan faedah-faedahnya

والذي نفسي بيجه ان كانوا ليفرحون بالبلاء كما تفرحون بالرخأء

الشكر عليها لما تضمنته من فوائدها

Bersyukur atas musibah disebabkan faedah-faedah yang terkandung di dalamnya

تحميصها من الذنوب و الخطايا

Membersihkan dosa dan kotoran

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Baginda Nabi SAW telah bersabda:

  مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah sesuatu menimpa kepada seorang muslim dari kesusahan, rasa sakit, rasa gelisah, rasa sedih, sesuatu yang menyakitkan, dan rasa gundah, hingga duri yang mengenai dirinya kecuali Allah menjadikannya sebagai pelebur atas kesalahan-kesalahannya”(HR . Bukhari).

رحمة اهل البلاء و مساعدتهم علي بلواهم

Belas kasih kepada yang tertimpa pandemi  dan memberi bantuan atas musibah mereka

فَإِنَّمَا النَّاسُ مُبْتَلًى ، وَمُعَافًى ، فَارْحَمُوا أَهْلَ الْبَلَاءِ ، وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ

معرفة قدر نعمة العافية و الشكر عليها

Mengetahui kadar kenikmatan sehat dan mensyukurinya

ما اعده الله تعالي علي هذه الفوائد من ثواب الاخرة علي اختلاف مراتبها

Pahala akhirat yang disiapkan oleh Allah terhadap faedah-faedah tersebut

ما في طيها من الفوائد الخفية

Faedah-faedah yang tersembenyi yang lain yang ada di dalam musibah

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

ان المصائب و الشدائد تمنع من الشر و البطر و الفخر و الخيلاء و التكبر و التجبر

Musibah dan bencana mencegah keburukan, keangkuhan, kesombongan, dan kecongkakan.

Andaikata Namrud faqir, berpenyakita, tidak bisa melihat dan mendengar ataupun dilanda pandemi yang ganas niscaya tidak sombong dia. Begitu juga Fir’aun, andakata seperti itu, maka tidaklah dia berucap

انا ربكم الاعلي

Para Nabi dan para Rasul adalah orang paling besar ujiannya, akan tetapi mereka sangat bersabar menghadapinya dan mengembalikan semuanya kepada Allah, tidak mengganggu sedikitpun perjuangan dan dakwahnya, Nabi bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُمِيلُهُ ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاءُ

الرضا الموجب لرضوان الله تعالي

Ridlo yang menyebabkan keridloaan Allah

Pandemi itu menimpa siapa saja tidak pandang bulu, pendosa maupun orang shaleh. Oleh karena itu, barang siapa marah dengan musibah tersebut, maka baginya kerugian dan kemurkaan Allah dan barang siapa yang ridla dengannya, maka baginya keridlaan Allah. Ridla Allah lebih utama dari surga dan seisinya, Allah berfirman :

ورضوان من الله اكبر (التوبة : 72)

Keridlaan dari Allah lebih besar

Dr. Abdul Djalal, M.Ag.
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo dan Ketua AMALI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *