Redaksi Qunut Nazilah Berbeda-Beda?

DALAM situasi genting mewabahnya penyakit seperti saat ini, kaum muslim disunnahkan  memanjatkan qunut yang disebut “qunut nazilah“. Kata “nazilah” artinya bencana. Yang dimaksudkan adalah bencana apa saja yang melanda secara massif sehingga menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat Muslim. Pertanyaannya, adakah redaksi khusus untuk itu? Menurut para ulama mazhab Syafi’i tidak ada, sehingga dapat menggunakan doa apa saja sesuai konteksnya. Pertanyaan berikutnya, kenapa tidak dianjurkan menggunakan redaksi yang dibacakan oleh Rasulullah kala itu? Jawabnya, karena nazilahnya tidak sama, bahkan sejenis pun tidak. Nazilah kali ini adalah penyakit yang mewabah, sedang nazilah kala itu adalah tragedi pembantaian terencana kaum kafir terhadap beberapa kader terbaik da’i Islam.

Itu terjadi dua kali, yang pertama tragedi yang dikenal dengan Yaum al- Raji’ yang terjadi pada tahun ke-3 H. Korbannya adalah beberapa kader da’i yang diutus Rasulullah ke perkampungan Kabilah Udhal untuk mengajari mereka agama Islam. Hal itu untuk memenuhi permintaan kepala kabilah tersebut yang memang sengaja hendak memperdaya beliau. Yang kedua, tragedi Bir Ma’unah yang terjadi pada tahun ke-4 H. Atas kejadian itu Rasulullah sangat terpukul karena korbannya tidak kurang dari 70 orang sahabat pilihan dan, oleh karenanya, Rasulullah berqunut di setiap shalat fardhu sebulan lamanya.

Sesuai dengan konteks kejadiannya, tentu redaksi qunut Rasulullah kala itu adalah kutukan terhadap kaum kafir dan permohonan balasan berupa siksaan yang dahsyat terhadap mereka… yah, seputar itulah (lihat: Sirah Ibnu Hisyam, Fiqh Sirah Al-Buthy dan kitab-kitab sirah lainnya). Tentu, redaksi yang demikian itu tidak relevan untuk dibacakan dalam qunut nazilah kali ini. Sebab, bencana kita saat ini adalah wabah penyakit, masa redaksi qunutnya kutukan terhadap orang kafir, nggak nyambung kan? Oleh karena itu, qunut nazilah redaksinya menyesuaikan dengan nazilah yang terjadi.

Namun demikian, menurut Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim (V/176), sunnahnya adalah dengan membaca qunut shalat Subuh yang sangat populer itu, terutama di kalangan Nahdliyyin, yakni “Allahumma ihdina fiman hadayt, wa afina fiman afayt…” dst.. Kemudian dipadu dengan doa tolak bala yang sangat relevan dengan konteks nazilah saat ini, yaitu:

اللهم ادفَعْ عنَّا الغٓلاءٓ والوٓباء والرٍبا والزٍنا والزلازٍل والمٍحَن وسوءَ الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا هذا إندونيسيا خاصة، وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين

Boleh juga ditambah dengan doa berikut:

اللهم اعصمنا من جهد البلاء، ودرك الشقاء، وسوء القضاء، وشماتة الأعداء، ومن شرور حوادث هذا الزمان وسوء تقلباته، ومن فتنه ومحنه وبلاياه وسوء نكباته

K.H. Zainul Muin Husni, Lc.,M.H.
(Dosen Senior Mahad Aly Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *