RESEP ANTI MALAS ALA ALFIYAH IBNU MALIK

Oleh: Nurul Azidah

لَا أَقْعُدُ الْجُبْنَ عَنِ الْهَيْجَاءِ # وَلَوْ تَوَالَتْ زُمَرُ الْاَعْدَاءِ

“Aku tidak akan pernah mundur dari musuh-musuh karena takut # sekalipun golongan musuh datang bertubi-tubi”

Bait yang sudah tak asing lagi di telinga kita tersebut adalah bait ke 302 dari nazam Alfiyah ibnu Malik. Sebuah kitab nahwu-saraf yang monumental di kalangan pesantren hingga saat ini. Sejatinya, bait ini bukanlah bait karangan Ibnu Malik sendiri, namun merupakan bait yang beliau nukil dari syiir arab lain untuk menjadi contoh aplikasi kaidah nahwiyah yang ada pada bait sebelumnya.

Dari bait ini beliau memberikan contoh dari bait sebelumnya yang menjelaskan kebolehan membaca nasab pada maf’ul lah (maf’ul liajlih) yang bersamaan dengan “al”. Sekalipun kebolehan tersebut bersifat syadz (jarang), yaitu pada lafadz  الجبن. Karena pada dasarnya hukum maf’ul lah yang bersamaan dengan “ال” atau yang diidlofahkan adalah dijarkan dengan huruf jar yang bermakna ta’lil (alasan).

Terlepas dari makna nahwiyyah bait tersebut, ada makna tersirat yang ingin disampaikan oleh musannif kepada siapapun yang tengah membaca, mempelajari dan yang menghafal bait-bait karyanya yang fenomenal ini. Bait tersebut juga memberikan pesan moral dalam  dan memberi motivasi untuk kita semua. Namun, sayangnya banyak dari kita yang tidak menyadari atau bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Sehingga kita hanya sebatas membaca bait tersebut secara tekstual, tanpa pernah mencoba berfikir lebih jauh.

Secara harfiyyah bait tersebut memiliki arti “Aku tidak akan pernah mundur dari musuh-musuh karena takut # sekalipun golongan musuh itu datang bertubi-tubi”. Melalui bait ini Ibnu Malik memotivasi kita untuk tetap belajar, tidak takut, tidak putus asa, maupun patah semangat ketika menghadapi musuh dalam kondisi apapun. Kita diberi motivasi untuk selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mengapai impian, hingga kelak kita bisa membuat impian itu menjadi kenyataan. Sebagaimana pepatah arab yang mengatakan كُنْ رَجُلًا رِجْلُهُ فِيْ الثَّرَا وَ هِمَّتُهُ فِيْ الثُّرَيَّ  yang artinya: “Jadilah seseorang yang kakinya menapak di bumi sedangkan cita-citanya jauh berada di bintang tsuroyya”

Bagi seorang pelajar, musuh terbesarnya dalam menyelami lautan ilmu adalah rasa malas yang seringkali datang tanpa kenal lelah. Sering kali kita menemukan seseorang gagal menjadi bintang kelas karena malas belajar, gagal naik kelas karena malas berangkat sekolah, gagal naik pangkat sebab malas masuk kerja, gagal cantik karena malas merawat diri, gagal memahami karena malas mendengarkan, bahkan gagal masuk surga sebab malas beribadah, dan banyak sekali kegagalankegagalan lainnya yang di timbul dari sifat malas.

Sahabat, sadarkah? kita adalah mahluk pilihan. Kita adalah satu-satunya mahluk yang dipilih Tuhan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi ini. Di antara sekian juta mahluk Tuhan, hanya kitalah sebagai manusia yang dipilih olehNya untuk memiliki anugerah terindah yakni akal. Dari sinilah kemudian menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memaksimalkan potensi akal yang kita miliki dengan cara sebaik mungkin.

Akal, ibarat sebuah mesin. Ia harus terus dinyalakan dan digunakan secara konstan agar terhindar dari kerusakan. Karena semakin sering potensi otak kita dilatih dan diasah maka semakin tajam pula kepekaan kita dalam berfikir. Sementara jika kita malas menggunakannya untuk halhal yang positif, maka tak dapat dipungkiri lagi, lambat laun, seiring berjalannya waktu ia akan redup sebelum akhirnya mati sia-sia tanpa makna.

Mari kita bersama satu padukan suara, teriakkan satu kalimat warisan sang empu Imam ibnu Malik, “Aku takkan menyerah pada apapun, bahkan sekalipun berbagai cobaan menghadang jalanku menuju masa depan yang cemerlang”.

Kita adalah permata, kita adalah batu mulia (tapi bukan batu akik yang sekarang lagi booming, red) yang selama ini tersembunyi jauh di kedalaman samudra dan terselip di antara bongkah bebatuan pada berbagai lapisan bumi. Dan pada saat yang tepat, takkan pernah ada yang mampu untuk mencegah kita menunjukkan kilau cemerlang yang kita miliki. Dan saat itu akan segera datang! Tepat di depan batang hidung kita. Sesaat lagi disaat kita sudah mulai bisa menyingkirkan rasa malas untuk berproses menampilkan kilau yang kita miliki.[waf]

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *