Romantisme Sang Rasul

Bahwa Rasulullah Saw. mempunyai ‘sense of romantism’ yang tinggi dalam keluarganya agaknya telah jamak diketahui, setidaknya dari lirik-lirik lagu yang belakangan bermunculan di blantika musik Indonesia, bahkan Dunia Islam. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa kisah-kisah romantis Rasulullah itu bukan fiktif atau mengada-ada, tetapi justru berasal dari riwayat-riwayat sahih, bahkan tak tanggung-tanggung sebagiannya dari riwayat al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah, dua kitab babon hadits dalam khazanah keilmuan Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Ini menunjukkan bahwa kisah-kisah tersebut memiliki urgensinya tersendiri di mata para ulama. Bukankah al-Bukhari berkata dalam mukadimah kitab sahihnya:

خَرَّجتُ كتابَ الصحيح مِن زُهاءِ ستمائة ألف حديث في ست عشرة سنة، وما وضعتُ فيه حديثًا إلا اغتسلتُ وصلَّيتُ ركعتين

“Aku sarikan kitab sahih ini dari 600 ribu hadits dalam kurun waktu 16 tahun, dan tidaklah aku letakkan satu hadits pun di sini kecuali terlebih dahulu aku mandi dan melakukan shalat dua rakaat.”

Jadi, kitab Sahih Al-Bukhari itu saripati dari 600 ribu hadits yang dia hafal dari mana kemudian dipilihnya hadits-hadits tertentu yang dinilainya paling penting di antara yang penting. Hasilnya adalah 7.275 hadits yang ia himpun menjadi satu kitab yang terdiri dari tiga jilid besar-besar. Itulah kitab Sahih al-Bukhari. Dalam kitab inilah, di samping kitab Sahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya, kisah-kisah romantis Rasulullah itu termuat. Ini artinya bahwa kisah-kisah tersebut penting diketahui oleh umat dan tak perlu ada rasa risih untuk meriwayatkannya.

Tambahan lagi, dari sisi Ummul Mukminin Aisyah Ra. sendiri, seandainya tidak memandang kisah-kisah itu penting, pastilah tidak akan menuturkannya kepada khalayak.

Di antara istri-istri Rasulullah Saw., Ummul Mukminin Aisyah adalah yang paling banyak (untuk tidak mengatakan satu-satunya) memaparkan kisah-kisah romantis Rasulullah dalam Bayt al-Nubuwwah. Sekedar menyebut contoh, simaklah, antara lain, penuturannya bahwa ia pernah menceritakan kepada Rasulullah perihal pasangan suami-istri Abu Zar’ dan Umm Zar’ yang sangat harmonis, setia dan saling pengertian satu sama lain. Ceritanya cukup panjang dan Rasulullah menyimaknya dengan seksama. Setelah itu beliau bersabda:

كُنتُ لَكِ كَأبي زَرْعٍ لِأُمِّ زرع

“Aku ini bagimu laiknya Abu Zar’ bagi Umm Zar'”.

Aisyah juga menuturkan bahwa ia pernah minum dari sebuah gelas, lalu Rasulullah mengambil gelas tersebut dan meminum sisa airnya. Menariknya, beliau menempelkan bibir suci beliau tepat di tempat bibir Aisyah menempel. Tak jarang pula, Rasulullah mendapatkan Aisyah sedang makan sepotong daging, lalu Rasulullah mengambilnya dan menggigitnya tepat di tempat yang digigit Aisyah.

Saat beberapa orang-orang Habasyah bermain perang-perangan di masjid, Rasulullah memberi kesempatan kepada Aisyah untuk menonton atraksi mereka dengan cara berdiri di depan pintu rumah beliau yang menghadap ke masjid, sedang Aisyah bergelayut di balik punggung beliau.

Sebagai istri yang dinikahi dalam usia kanak-kanak, yaitu 7 tahun tetapi baru ‘berkumpul’ setelah berusia 9 tahun, tentu wajar jika sifat kekanak-kanakan menonjol pada diri Aisyah, setidaknya pada tahun-tahun pertama pernikahannya, dan Rasulullah tak hendak mencerabut Aisyah begitu saja dari dunianya. Oleh karena itu, hampir setiap saat rumah Aisyah ramai dengan anak-anak kecil perempuan yang tak lain adalah teman-teman sepermainannya. Rasulullah menyebut mereka ini ‘shuwayhibat Aisyah’. Bila sesekali Rasulullah masuk ke rumahnya, anak-anak itu pada ‘ngumpet’ karena merasa kikuk dengan beliau. Tetapi beliau segera menyuruh mereka keluar dari persembunyiannya untuk kembali menemani Aisyah.

Pernah juga dua kali Rasulullah adu cepat berlari dengan Aisyah. Kali pertama Rasulullah kalah (atau lebih tepatnya mengalahkan diri). Kemudian, pada kali yang kedua, beliau mengalahkannya. Lalu sambil tertawa lepas beliau bersabda:

هذه بتللك

Artinya dengan bahasa kita, ini untuk menebus kekalahanku tempo hari

Sungguh luar biasa bahwa dalam usia yang telah berkepala lima beliau masih berkenan meladeni dengan penuh mesra Aisyah yang masih kanak-kanak. Dan tak dapat dilukiskan betapa Aisyah sangat terhibur dengannya.

Semua ini di dalam Sahih Muslim. Pertanyaannya, apakah di antara ummahatul Mukminin radhiyallahu anhunna ajma’ien hanya Aisyah yang diperlakukan dengan manja seperti itu? Jawabnya tidak. Ada riwayat-riwayat lain tentang tema yang sama dari beberapa istri yang lain seperti Ummul Mukminin Maimunah yang menuturkan mandi bersama Rasulullah dari satu ember. Hanya saja tidak banyak. Kebetulan, yang paling banyak menuturkan hadits dan dimintai fatwa adalah Aisyah. Wallaahu a’lam

Bersambung…

Oleh :
KH. Zainul Mu’ien Husni, Lc.
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *