Suami-istri dan Laknat Malaikat

Oleh: Imam Nakha’i

Alumni Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah

 

حديث أبي هريرة قال: قال رسول الله ﷺ: إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبتْ فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح، متفق عليه.

Hampir semua suami pernah mendengar hadis ini dengan seyum bahagia. Istri juga lebih sering mendengarnya, tapi tidak ada seyum yang sama. Hadis ini menyatakan bahwa bila suami mengajak istri berhubungan badan, lalu istri enggan melayaninya, dan ‘karenanya suami marah’, maka malaikat melaknatnya sampai pagi hari.

Hadis ini seringkali dihubungkan dengan ayat ‘sakti laki-laki’ al-rijalu qawwamuna ala al-nisa’, yang menghendaki ketaatan penuh seorang istri kepada suaminya, di semua konteks, termasuk konteks senggama.

Memang benar, hadis ini adalah hadis sahih, tapi bagaimana memahami hadis ini? Apa konteks khusus dan konteks umumnya? Mengapa hadist ini dihubungkan dangan ayat al-rijalu qawwamuna ala al-nisa’ dan hanya sedikit yang menghubungkan dengan ayat hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna (istri-istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri)?

Pertama, di dalam teks hadis ada kata fa bata ghadbana yang artinya lalu suami tidur dalam keadaan marah. Ini berarti, istri akan dilaknat malaikat, jika suami marah. Mafhum mukhalafah-nya atau arti sebaliknya, jika suami tak marah, maka malaikat tak melaknatnya.

Pertayaannya, berhakkah suami marah? Jawabnnya terkait dengan konteks khusus dan konteks umum hadis ini. Jika suami telah memenuhi semua kewajibannya, nafkah sejak pagi hari, seluruh pekerjaan rumah tangga yang menjadi kewajiban suami sudah dilakukan, seperti mencuci, memasak, menyapu, mandikan anak, mengantar anak sekolah, rapi-rapi rumah, dan pekerjaan rumah lainnya, sementara istri ‘duduk manis’ menunggu suami kerja, kemudian setelah semua kewajiban di atas selesai dilakukan suami meminta kepada istri untuk melakukan hubungan badan, dan istri menolak, maka dilaknatlah oleh malaikat. Tetapi, jika semua pekerjaan rumah dilakukan oleh istri, bahkan nafkah juga istri yang menanggungnya, bahkan ada istri yang sejak jam 3 malam sudah pergi ke pasar, di sisi lain suami ‘duduk manis’, lalu setelah istri melakukan semua pekerjaan rumah termasuk nafkah, suami meminta untuk berhubungan badan dan marah karena ditolak, maka mungkin malaikat marah dan melaknat suami yang seperti ini. Wallahu a’lam.

Kedua, seharusnya, hadis ini juga dihubungkan dengan ayat bahwa istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri. Indah sekali al-Qur’an mengambarkan dengan pakaian. Pakaian adalah kehangatan, pakaian adalah perlindungan, pakaian adalah identitas, pakaian adalah kebanggaan. Ayat ini dengan tegas meyatakan bahwa istri dan suami ‘saling menjadi pakaian’ dari yg lain. Istri adalah kehangatan suami sebagaimana suami kehangatan istri. Jika suami tidak menjadi pakaian istri dan sebaliknya, maka berarti berarti ia melepaskan pakaiannya, membiarkan auratnya teebuka (dalam makna luas).

Jadi, semangat ayat ini adalah menjaga kesalingan itu. Hubungan seks adalah hak dan sekaligus kewajiban suami-istri. Itulah semangat ayat ini, substansi ketahanan keluarga, tapi bukan ketahanan keluarga yang semu.

Maka hadis di atas, harus diletakkan dalam konteksnya yang tepat, dan bandingkan dengan hadis lain, terlebih dengan ruh ayat al-Qur’an. Jangan hanya menggunakan satu hadis, lalu merasa paling benar. Wallahu a’lam.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *