Suami Wajib Penuhi Kebutuhan Seks Istri

Oleh: Imam Nakhai

Dosen Mahad Aly Situbondo dan Komnas Perempuan

 

Inti perkawinan adalah menyatunya ‘dua saya/dua ana‘ (orang: Red.) yang kemudian menjadi ‘kita/nahnu’ (pasangan: Red.). Itulah filosofi zaujaini yang bermakna ‘dua pasangan’ untuk menyebut pasangan suami-istri.

Suami-istri bagaikan pasangan dua sayap kanan-kiri yang tanpa salah satunya kehidupan tidak akan pernah terbang ke angkasa.

Salah satu wujud menyatunya ‘dua saya’ (dua orang: Red.) dalam ‘kita’ (pasangan: Red.) adalah hubungan seks. Itulah kenapa perkawinan dalam Islam disebut nikah. Sebab nikah secara bahasa bermakna ‘menyatu-padu’ (al-dhammu) bukan hanya sekadar berkumpul-bertemu (al-jam’u). Pernikahan adalah al-dhammu sekaligus al-jam’u.

Jika suami egois (hanya mengutamakan ke-saya-annya sendiri), termasuk dalam hububgan seks, maka hakikatnya bukan pernikahan, sebab tidak ada ke-menyatu-an dan kepaduan. Sebab itu Allah berfirman ‘hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna‘, istri pakaian suami dan suami juga pakaian istri.

Penggalan ayat ini dengan terang benderang atau dalam bahasa usul fikih disebut ‘manthuq sharih‘,  menyatakan bahwa inti perkawinan adalah ‘kesalingan’.

Untuk meneguhkan makna kesalingan dalam hubungan seksual, Rasulullah mewartakannya dalam beberapa hadis. Diantaranya:

إذا جامع أحدكم أهله فليصدقها، فإذا قضى حاجته قبل أن تقضي حاجتها فلا يعجلها حتى تقضي حاجته

Bila engkau melakukan hubungan seks maka bersunguh-sungguhlah, apabila engkau ejakulasi terlebih dulu sebelum istrimu, maka jangan menyegera-gerakan istrimu sampai ia sendiri mencapainya.

Menarik menganalisis kata ‘fa laa yu’ajjilha‘ sebagian teks hadis membaca ‘fa laa yu’jilha‘. Bacaan pertama bermakna ‘jangan menyegera-gerakan’  dan bacaan kedua bermakna ‘jangan menyegerakan’.

Apa perbedaannya? Yang pertama, bermakna berulang-ulang menyuruh segera, sedang yang kedua tidak bermakna pengulangan. Kepana begitu? Kedua bacaan di atas menganjurkan dan mengajarkan ‘moralitas seks’ lebih tinggi dari kata ‘jangan tergesa-gesa’.

Kata jangan tergesa-gesa adalah perintah kepada suami untuk tidak tergesa-gesa. Sedangkan dua bacaan sebelumnya memerintakan pada suami agar tidak membuat istrinya tergesa-gesa. Luar biasa sensifitas Nabi melihat kebutuhan seks perempuan. Allahumma shalli ala Muhammad.

Hadis ini, dan beberapa hadis senafas lainnya, menenguhkan pesan yang sudah secara terang benderang di perintahkan al-Quran. Dalam usul Fikih, peran hadis seperti ini disebut ‘mu’akkid li al Qur’an‘, sehingga ada dua sumber hukum untuk keharusan kesalingan dalam hubungan seks, setaraf dengan salat, puasa, haji, rukun imam, dll yang juga sama sama memiliki dua sumber hukum, al-Quran dan al-Sunnah.

Intinya, al-Quran dan al-Sunnah mengajarkan Kesalingan dalam setiap relasi suami-istri, termasuk dalam hubungan seksual. Jadi, janganlah Egois.

Wallahu a’lam

Situbondo

041019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *