Tantangan Dakwah di Dunia Cyber

Oleh: Kholilur Rohman, S.Sy,

The world is flat (dunia menjadi datar)”, kata seorang jurnalis Thomas L. Frieman  sebagai ekspresinya melihat perkembangan pesat di berbagai negara Asia dan Eropa. Perkembangan cepat yang membuat manusia menjadi semakin sibuk dapat melihat satu dengan yang lain meskipun artikel dalam belahan bumi yang berbeda. Dengan web (situs di internet) orang bisa menempatkan karya digitalnya untuk diakses siapa pun,  memanggil dokumen yang tersimpan di server dan menayangkannya di layar komputer dengan cara yang sangat mudah.

Perkembangan pesat inilah yang digunakan sebagai sarana dakwah yang sangat strategis. Semua orang, dari berbagai umur dan profesi, dapat mengakses kontenkonten web islami. Mereka yang sedang sibuk, tidak sempat atau malas mengikuti pengajian di kampung dan malu bertatap muka dengan ustadnya, bisa langsung mengetik permasalahan yang dicari di searching engine (mesin pencari) seperti google©, yahoo©, dan sebagainya.  Mesin pencari akan menemukan situs yang cocok untuk jawaban yang dipertanyakan. Situs yang memiliki perwajahan bagus, sering dikunjungi, dan konten (isi situs) yang sering diperbaharui (di-update) akan nangkring di halaman dan urutan awal. Situs inilah kemungkinan besar akan di-klik dan dibaca. Sebaliknya, situs yang hanya mengandalkan kualitas isi saja tanpa mengoptimalkan website akan tetap bercokol di halaman dan urutan belakang. Kemungkinan kecil situs ini akan dikunjungi sekalipun memiliki bahasa bagus, referensi lengkap, berpaham Aswaja (Ahlusunah Waljamaah) dan isinya menarik.

Akan tetapi, masalahnya adalah situs-situs Islam yang nangkring di urutan dan halaman awal adalah situs yang berafiliasi (berhubungan) dengan Wahabi, Syiah, Liberal, dan aliran lainnya. Isinya—sekalipun tidak seluruhnya—menebarkan fitnah, kebencian, kebohongan, mengafirkan sesama muslim, mengadu domba NU (Nahdlatul Ulama) dengan Syiah, dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Mereka tidak segan-segan memfitnah ulama yang mengikuti atau membela paham Syiah. Parahnya, ulama Sunni Aswaja seperti Syekh Ramadlan Al-Buti dibunuh karena difitnah sebagai Syiah, Syekh Hassan Saifuddin secara brutal dipenggal kepalanya, Syekh Ahmad Hassoun (Grand Mufti Suriah) difitnah bahwa fatwanya telah menyebabkan ratusan ribu kaum muslimin Sunni Suriah dibantai dan jutaan orang dari mereka terusir dari negaranya, dan masih banyak yang lainnya. Beberapa hadis yang sahih dilemahkan hanya dengan acuan Al-Albani, seorang ahli hadis versi mereka. Beberapa problematika hukum klasik dan modern juga dijawab dengan mengacu pada pandangan ahli fikih versi mereka, seperti Al-Utsaimin, Ibn Baz, dan lainnya, dengan menafikan pendapat ulama mazhab yang empat (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali) serta berbagai pendapat yang banyak sekali melenceng dari paham Aswaja dan ulama salafunash shalih. Beberapa situs intoleran (yang tidak bersikap toleransi) ini memiliki konten menarik, rangking (peringkat) tinggi, dan banyak peminat yang mengaksesnya.

Paham-paham mereka telah menyebar di media online dan media cetak. Radio dengan frekuensi jangkauan yang luas; majalah, selebaran (buletin), serta buku dengan kualitas perwajahan (sampul) yang menarik dan harga yang cukup terjangkau; dan dana yang melimpah ruah juga mendukung penyebaran paham mereka (aliran nonAswaja). Bahkan, propaganda mereka yang mem-bid’ah-kan amalan kelompok di luar mazhab mereka juga berhasil mengisi salah satu acara di salah satu stasiun TV nasional. Selain itu, propaganda mereka yang mengusung paham radikal atau pun paham pendirian khilafah islamiyah (negara Islam) juga berpotensi memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa ini.

Perang di dunia cyber (dunia maya) memang telah marak diperbincangkan sehingga dari NU sendiri telah melakukan sebuah gerakan untuk menangkal situs-situs intoleran ini. Melalui Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN NU), PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) membentuk sebuah komunitas admin Aswaja dan IT developer (pengembang Teknologi dan Informasi) yang dinamai PPM Aswaja (Persaudaraan Profesional Muslim Ahlusunah Waljamaah) di seluruh Indonesia. Komunitas ini merupakan perkumpulan warga NU yang bergiat di bidang Teknologi Informasi (TI). Mereka semua telah melakukan pertemuan beberapa kali, bahkan dalam pertemuannya yang ketiga diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Kebetulan, situs resmi Ma’had Aly dan cyberdakwah.com (akun web yang dikelola oleh Rahmat Saputra, salah satu alumni PP Salafiyah Syafi’iyah) termasuk anggota komunitas tersebut. PPM Aswaja sendiri telah membuat searching engine (mesin pencari, seumpama google©) yang hanya sebagai pembatas pencarian pada situs-situs Aswaja saja sehingga tidak tersesat di situs-situs nonAswaja. Oleh karena itu, segala upaya telah dilakukan untuk mengoptimalkan kualitas situs baik dari segi kontennya maupun dari sisi kualitas beritanya, serta mekanisme penyebaran artikel di berbagai media social, seperti Facebook© dan Twitter©.

Apakah dengan segala daya upaya di atas sudah cukup untuk membendung warga Aswaja dari serangan beragam ideologi di luar Aswaja? Apalagi mereka memiliki kucuran dana yang melimpah, militansi (ketangguhan) anggota, dan konsistensi mengunggah (meng-upload atau mem-posting) tulisan-tulisan ke internet. Lantas, apakah bisa dikalahkan dengan usaha yang sama atau hanya sekadar berdoa? Untungnya, pada bulan April lalu, Menkominfo (menteri komunikasi dan informasi) telah memblokir (membekukan) 22 situs radikal dan intoleran sehingga mereka harus hati-hati saat mengunggah berita di cyber. Sebagian dari situs-situs tersebut adalah arrahmah.com (rating 495), voa-islam.com (789), panjimas.com (2,412), dakwatuna.com (585), hidayatullah.com (930), dan eramuslim.com (463). Situs-situs tersebut memiliki rating tinggi dan pembaca yang sangat banyak. Beberapa situs tersebut mengajukan protes dan sekarang mereka kembali aktif. Bandingkan dengan rating beberapa situs berhaluan Aswaja, seperti situs resmi NU, nu.or.id (rating 1.024), www.moslemforall.com (27.142) www.islam-institute.com (4.078), www.piss-ktb.com (8.783),  dan cyberdakwah.com (17.753).

Berdasarkan realita website berhaluan Aswaja di atas, sepintas, usaha dan peran situs Aswaja masih terbilang “kurang bergigi” untuk bersaing dengan beberapa situs nonAswaja tersebut. Rata-rata para admin (pengendali) situs adalah insan lulusan pondok pesantren. Tidak cukup waktu bagi mereka untuk mengelola sepenuh hati karena mereka juga harus bekerja dan sibuk dengan urusan masyarakat sekitar. Karena itulah, dalam Forum Silaturahmi IV PPM Aswaja di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tempuran, Magelang, diusulkan agar pondok pesantren juga ikut meramaikan situsnya masing-masing dengan konten-konten islami ala Aswaja.

Selama ini, beberapa situs pesantren hanya menampilkan berita lokal, acara besar di pondoknya sendiri dan pencitraan lainnya. Problemnya adalah tidak adanya perhatian khusus dari pengurus pesantren, minimnya pengetahuan para santri tentang dunia cyber dan seluk-beluk jurnalistik, dan beberapa problem lainnya. Untuk itulah, pesantren sekarang harus mulai bergerak mengoptimalkan website dan pengelolanya. Harus ada beberapa santri yang berkonsentrasi mengelola website pesantrennya. Gerakan ini tidak cukup hanya dilakukan oleh beberapa santri saja tetapi juga harus didukung dengan fasilitas memadai dan dana yang cukup. Jika gerakan ini dilakukan oleh beberapa pesantren besar di Indonesia, mungkin akan sedikit membendung membludaknya gerakan radikal dan intoleran di masyarakat serta mampu memberikan pemahaman Islam Aswaja sehingga dapat mengembalikan citra Islam yang  rahmatan lil alamin yang selama ini terkesan kaku dan antipati terhadap perkembangan dunia modern.[]

Facebook Comments

2 tanggapan untuk “Tantangan Dakwah di Dunia Cyber

  • Januari 14, 2019 pada 6:54 pm
    Permalink

    Tulisan yg sangat menggugah dan isnpiratip

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *