Tiga Tahapan Penting Dalam Memahami Al-Quran Menurut Ustaz Imam Nakha’I.

Oleh :
Imam Nakhe’I
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo sekaligus Komisioner Komnas Perempuan RI)

Ketika kita dihadapkan pada sebuah ayat alquran, setidaknya kita akan membaca, memahami dan menfsirkannya. Namun, apa mungkin membaca, memahami dan menfsirkan alquran sama sebagaimana membaca koran atau buku-buku biasa lainnya?. Tentu jawabannya tidak!. Ada beberapa tahap yang harus dilalui agar penafsiran kita atas teks suci itu mendekati kebenaran.

Pertama: Pastikan situasi seperti apa yg hendak direspon alquran. Mengenal situasi ini bisa melalui ilmu asbāb al-nuzūl (penyebab dihadirkannya ayat), baik sabab khusus (spesifik) maupun konteks sosial, budaya, politik, saat ayat diturunkan.

Kedua : Situasi seperti apa yg diedealkan yang hendak diubah oleh alquran. Situasi yg diidealkan alquran ini dapat diketahui dengan mengenali apa tujuan utama (maqāhashid), mana tujuan perantaranya (wasā’il al-wasā’il) dan mana media atau strategi menuju ke tujuan utama itu (al-wasā’il).

Ketiga : Mengetahui struktur bahasa yg digunakan alquran. Bahasa alquran adalah tangga atau alat untuk menyelami makna, keinginan. atau maksud Allah Swt yg melekat dalam dzatnya.

Dengan tiga hal ini setidaknya sebuah penafsiran atau pemahaman akan lebih mendekati kebenaran yang dikehendaki Allah Swt.

Walapun bukan satu satunya. Sebab Ilmu Allah bisa saja di“dlesebkan” oleh Allah ke dalam hati hamba-hamba yg bersih dan dikasihinya. Seperti Ilmunya Nabi Khidir As, sebagimana digambarkan dalam alquran.

Contoh bagaimana kita memahami ayat “Jilbab” :

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّبِیُّ قُل لِّأَزۡوَ ٰ⁠جِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاۤءِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ یُدۡنِینَ عَلَیۡهِنَّ مِن جَلَـٰبِیبِهِنَّۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَدۡنَىٰۤ أَن یُعۡرَفۡنَ فَلَا یُؤۡذَیۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا﴾  الأحزاب. ٥٩

Pertama: Situasi sosial-budaya seperti apa yg direspon ayat ini?

Menurut penuturan beberapa pakar tafsir, ayat ini turun untuk mengingatkan agar para perempuan merdeka tidak mengenakan pakaian yg meyerupai pakaian budak perempuan. Sebab banyak laki laki fasiq yang gemar menggoda atau menyakiti budak perempuan. Jadi jika perempuan merdeka mengunakan pakaian mirip budak maka ia akan disakiti sebagaiman yang dialami para budak perempuan pada waktu itu.

Maka, kedua: Situasi ideal apa yang dikehendaki alquran? Apakah keamanan dan kenyamanan perempuan dimana perempuan tidak digoda dan disakiti? Sehingga mengenakan jilbab hanyalah tujuan antara? Maka sepirit ayat itu adalah mengubah budaya “mengganggu itu”. Ataukah tujuan utamanya mengenakan jilbab, bahkan harus bercadar agar tidak diganggu laki laki fasiq (jahat)? Sekalipun perempuan harus mengurangi “sedikit” kenyamanannya, dengan makan dan minum dari balik cadar yg “menurut dugaan saya” menyulitkan.

Setelah mengenali dua hal itu, baru kita menyelami ayat di atas melalui bahasa suci yg digunakan Allah Swt. Gunakan ilmu Nahwu, Sharraf, ilmu lughah, dan juga ilmu Usul Fikih.

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *