Trend Rambut Masa Kini

Deskripsi Masalah:

Dia adalah Sandi putra tunggal dari orang terkaya di desa Parau. Dia memiliki kebiasaan unik pada rambutnya, yakni sering diwarnai (disemir) sesuai yang dia inginkan. Bahkan warna semir tersebut bisa gonta-ganti hanya  dalam waktu beberapa hari saja. Jika hari minggu disemir warna merah, dua hari setelah itu dia rubah lagi menjadi warna kuning dan seterusnya. Hal ini terjadi bermula dari kegemarannya melihat drama korea. Bisa dibilang, rambutnya disemir bukan tanpa alasan, melainkan karena mengikuti gaya rambut salah satu bintang film drama korea yang diidolakannya. Uniknya, saat Sandi mendapat teguran dari keluarga atau masyarakat setempat, dia menjawab “Semir rambut itu diperbolehkan asal tidak hitam”.

 

Pertanyaan:

Menurut perspektif fikih, Apakah dapat dibenarkan tindakan yang di lakukan oleh Sandi?

 

Mukaddimah:

الأيات القرآنيّة  ، ومنها :

{وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ} [النساء: 119]

Artinya: “Dan (setan berkata) pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya). Dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya). (QS. An-Nisa: 119)

 

{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ} [الأعراف: 32]

Artinya: Katakanlah (Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? (QS. Al-A’raf: 32)

 

الأحاديث النبويّة ، ومنها :

عَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ والِدِ أَبي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنهما ، يَومَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضاً . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( غَيِّرُوا هَذَا وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ )) . رواه مسلم .

Artinya: “Diceritakan dari Jabir RA bahwa Abi Quhafah ayahanda Abu Bakar as-Siddiq Radidatangkan pada hari Fathu Makkah, dengan rambut kepala dan jenggot yang sudah memutih seperti warna jenis tumbuhan tsagamah. Lalu Rasulullah bersabda: Ubahlah  ini (uban) dengan sesuatu tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim)

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَفَعَهُ أَنَّ النّبيّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ( قَوْمٌ يَخْضِبُونَ بِهَذَا السَّوَادِ آخِرَ الزَّمَانِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ) . رواه أبو داود ، والنسائى ، وابن سعد ، والبيهقى .

Artinya: “Diceritakan dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW bersabda: Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok (kantong tempat makanan pada leher) merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Saad dan al-Baihaqi)

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم – قَالَ: (( مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ )) . رواه أبو داود وابن أبي شيبة والبيهقي .

Artinya: “Diceritakan dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda: Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi)

 

القواعد والضوابط الفقهيّة ، ومنها :

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْحِلُّ إِلَّا أَنْ يَرِدَ نَصٌّ بِالتَّحْرِيْمِ .

Artinya: Asal dari sesuatu diperbolehkan hingga adanya nash yang melarangnya.”

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ .

Artinya: Sesuatu yang membahayakan diri dan membahayakan orang lain, harus ditiadakan.”

 

Jawaban:

Pada dasarnya semir rambut merupakan salah satu dari trend berhias. Dengan demikian, hukum asal menggunakan semir rambut dengan warna dan merek apapun adalah legal menurut syariat islam. Hal ini selama tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan kepada kulit kepala atau rambut, tidak ada unsur tasyabbuh dengan orang kafir atau orang fasik, serta dilakukan dengan motifasi yang baik menurut syariat islam yang di antaranya: tidak untuk menipu orang lain (tadlis) semisal menyemir hitam bagi orang yang sudah beruban agar terlihat muda, menakut-nakuti dan memperdanya musuh bagi para mujahid fi sabililllah dengan menyemir uban dengan warna hitam, dan berhias untuk menyenangkan suami bagi seorang istri.

Sementara teks-teks hadist dan kitab-kitab fikih yang menjelaskan anjuran menyemir dengan warna selain hitam, khususnya warna kuning dan merah adalah ditujukan kepada orang tua yang sudah beruban. Ketidak bolehan tersebut karena termasuk tindakan merubah terhadap ciptaan Allah SWT..

Adapun tindakan yang dilakukan oleh Sandi sebagaimana deskripsi di atas, tidak dibenarkan (haram). Memandang tindakan yang dilakukannya untuk meniru idolanya. Selain itu menyemir rambut dengan warna selain hitam di era sekarang sudah menjadi trend remaja yang amoral/nakal (fasik) dan non muslim.

 

Referensi:

الفقه على المذاهب الأربعة (2/ 45)

الشافعية – قالوا: يكره صباغة اللحية والشعر بالسواد، إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور بمظهر الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه. فإذا كان لغرض فاسد كالتشبه بأهل الدين فهومذموم.

Artinya: “Ulamak Syafi’iyah berkata: Mewarnai jenggot atau rambut (yang beruban) dengan warna hitam dimakruhkan, kecuali mewarnai dengan kuning atau merah maka hal ini diperbolehkan jika dilakukan untuk tujuan yang dibenarkan syari’at semisal: menampakkan keberanian di hadapan musuh dalam peperangan. Namun, jika dilakukan dengan motifasi yang tidak baik (fasid) seperti untuk menyerupai dengan non muslim, maka hal tersebut merupakan tindakan tercela (tidak boleh).” (Al-Fiqh al-Mazahib al-Arba’ah, II/45)

 

المجموع شرح المهذب (1/ 293)

 (فَرْعٌ) اتَّفَقُوا عَلَى ذَمِّ خِضَابِ الرَّأْسِ أَوْ اللِّحْيَةِ بِالسَّوَادِ، ثُمَّ قَالَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ وَالْبَغَوِيُّ فِي التَّهْذِيبِ وَآخَرُونَ مِنْ الْأَصْحَابِ هُوَ مَكْرُوهٌ …. وَالصَّحِيحُ بَلْ الصَّوَابُ أَنَّهُ حَرَامٌ:

Artinya: Ulamak sepakat tentang buruknya mewarnai rambut atau jenggot (yang sudah memutih) dengan warna hitam. Kemudian imam al-Ghazali di dalam Ihya’-nya, imam al-Baghawi dalam kitab at-Thahdzib, dan ulama lainnya dari ashab as-syafi’i  berkata: hal tersebut adalah makruh. Namun, pendapat yang shahih dan benar adalah haram.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, I/293)

 

غاية البيان شرح زبد ابن رسلان (ص: 40)

 يجوز للْمَرْأَة ذَلِك بِإِذن زَوجهَا أَو سَيِّدهَا لِأَن لَهُ غَرضا فِي تزيينها بِهِ وَقد أذن لَهَا فِيهِ وَالظَّاهِر كَمَا قَالَه بعض الْمُتَأَخِّرين أَنه يحرم على الْوَلِيّ خضب شعر الصَّبِي أَو الصبية إِذا كَانَ أصهب بِالسَّوَادِ أَي لما فِيهِ من تَغْيِير الْخلقَة وَإِن عزى للناظم فِي شَرحه لنظمه أَنه قَالَ إِن الظَّاهِر أَنه لَا يحرم انْتهى (لَا للْجِهَاد) أَي يجوز خضب الشّعْر الْأَبْيَض بِالسَّوَادِ لأجل الْجِهَاد لما فِيهِ من إرهاب الْعَدو وَخرج بِالسَّوَادِ خضبه بِغَيْرِهِ كالحناء فَلَا يحرم بل هُوَ سنة للذّكر وَالْأُنْثَى

Artinya: Diperbolehkan bagi wanita menyemir warna hitam atas izin dari suami, atau budak perempuan atas izin dari tuannya. Hal ini karena ada alasan syar’i, yakni berhias untuk suami atau tuannya. Sedangkan hukum menyemir uban anak kecil karena faktor kelainan, ulamak mutakhirin berpendapat akan keharaman bagi wali/orang tua untuk menyemir rambut anaknya yang beruban–baik  laki-laki atau perempuan– dengan warna hitam karena alasan merubah ciptaan Allah. Pendapat ulamak mutaakhirin di atas bertolak belakang dengan pendapat yang dinisbatkan kepada nazhim, beliau berpendapat bahwa menyemir uban anak kecil adalah tidak haram (boleh). Dan diperbolehkan juga menyemir uban dengan warna hitam dengan alasan jihad, untuk menakut-nakuti musuh islam. Sementara hukum menyemir uban dengan selain warna hitam adalah tidak dilarang, bahkan sunnah hukumnya, baik bagi laki-laki maupun perempuan.” (Gayah al-Bayan Syarh Zubad Ibn Ruslan, 40)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *