Pembagian Waris Harus Atas Dasar Keadilan, Bukan Atas Dasar Jenis Kelamin!.

Oleh :
Imam Nakho’i
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo sekaligus Komisioner Komnas Perempuan RI)

Pernyataan yang menyatakan perempuan mendapatkan setengah bagian laki-laki dalam waris karena jenis kelaminnya adalah pernyataan yang tidak tepat. Sebab, banyak perempuan yang mendapatkan bagian yang sama dengan laki-laki, bahkan mendapatkan bagian waris lebih banyak.

Jika mengkaji ilmu waris, maka kita akan segera mengetahui bahwa ada empat bentuk atau kondisi pewarisan sebagaimana dituturkan oleh Shaikh. Dr. Ali Jum’ah, seorang ulama kenamaan yang juga sekaligus Mufti di Al-Diyar Al-Mishriyah. Empat kondisi tersebut di antaranya adalah :

  1. Hanya ada empat kondisi dimana perempuan mendapatkan bagian setengah dari laki-laki.
  2. Ada sebelas kondisi dimana bagian laki-laki dan perempuan setara.
  3. Justru ada empat belas kondisi dimana perempuan lebih banyak bagiannya ketimbang laki-laki.
  4. Dan ada lima kondisi dimana perempuan mendapat warisan, sementara laki-laki yang sederajatnya tidak mendapatkannya.

Contoh untuk yang pertama : Ketika orang tua yang wafat hanya meninggalkan anak perempuan dan beberapa anak laki-laki, atau meninggalkan anak perempuan dari anak laki-laki dan anak laki-laki dari anak laki-laki, maka bagian perempuan separuh dari bagian laki-laki.

Contoh untuk yang kedua : Ketika ahli waris terdiri dari ayah dan ibu sementara pada saat yang bersamaan ada anak yang menjadi ahli waris juga, atau saudara laki-laki dan saudara perempuan se-ibu. Dalam kondisi seperti ini maka bagian laki-laki dan perempuan adalah sama.

Contoh untuk yang ketiga : Ketika ahli waris terdiri dari seorang anak perempuan dan suami, atau suami dan dua anak perempuan, maka bagian perempuan lebih banyak dari bagian laki-laki.

Contoh untuk yang Keempat : Jika perempuan meninggal dunia dan meninggalkan suami, ayah, ibu, anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki, dan si mayyit meninggalkan harta dalam jumlah tertentu. Maka seandainya si mayyit meninggalkan anak laki-laki dari anak laki-laki, maka anak ini tidak akan mendapatkan bagian sisa, karena habis terbagi. Beda halnya jika anak perempuan dari anak laki-laki.

Jadi dasar perbedaan pembagian waris bukanlah jenis kelamin, melainkan keadilan. Keadilan adalah spirit dan ruh teks waris. Apa makna angka-angka tanpa ruh keadilan di dalamnnya?.

Jika seseorang lebih berpijak pada keadilan dalam waris maka dapat dipastikan tidak akan bertentangan dengan teks. Karena keadilan justru bagian penting dari teks. Berpijak pada keadilan adalah berpijak pada teks.

Sama seperti jika orang tua mengeluarkan teks pada anaknya “Nak, jangan keluar rumah supaya tidak kehujanan”. Tujuan teks ini adalah agar anak tidak kehujanan dan tidak sakit. Nah jika anak keluar rumah dengan membawa payung dan mantel dan ternyata tidak kehujanan dan tidak sakit, apakah tindakannya bertentangan dengan teks “Nak Jangan keluar…“. Tentu tidak!, sebab tujuan tidak kehujanan dan tidak sakit adalah bagian penting dari teks di atas.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang luar biasa. Al-Qur’an bukan hanya deretan huruf-huruf dan kata-kata tanpa makna. Ia adalah teks suci yang kandungan maknanya bagaikan lautan, tak pernah habis untuk diteguk sepanjang masa.

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *