Walisongo ; Perintis Pertama Pondok Pesantren di Indonesia.

Oleh :
Prof. Dr. H. Abu Yasid, M.A., L.LM.
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo dan Rektor Universitas Ibrahimy)

Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Tidak banyak referensi yang mampu mengungkap kapan mula-mula Pondok Pesantren didirikan. Tetapi hampir bisa dipastikan bahwa Pondok Pesantren lahir seiring dengan penyebaran Islam yang dilakukan oleh walisongo di tanah air, khususnya di pulau jawa. Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pondok Pesantren yang pertama kali didirikan adalah Pondok Pesantren hasil rintisan Shaikh Maulana Malik Ibrahim (w. 822 H/w. 1419 M). Ini karena tokoh ulama yang juga dikenal dengan nama Shaikh Maulana Maghribi adalah orang yang pertama kali menyebarkan Islam di antara para wali yang sembilan.

Namun demikian, tokoh yang dianggap paling berhasil mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat yang populer dengan sebutan Sunan Ampel. Dia mula-mula mendirikan Pondok Pesantren di Kembang Kuning yang pada waktu didirikan hanya memiliki tiga orang santri. Tiga orang paling beruntung tersebut antara lain adalah Wiryo Suroyo, Abu Hurairoh, dan Kiai Bangkuning. Tak lama kemudian, Sunan Ampel pindah ke Ampel Delta, Surabaya, dan mendirikan Pondok Pesantren di sana. Hal ini yang kemudian menyebabkan ia kesohor dengan sebutan Sunan Ampel. Misi keagamaan dan pendidikan Sunan Ampel mencapai sukses sehingga dia sangat dikenal oleh masyarakat Majapahit. Sejak itulah kemudian banyak bermunculan pesantren-pesantren baru yang didirikan oleh para santri dan puteranya. Misalnya, Pondok Pesantren Giri oleh Sunan Giri, Pondok Pesantren Demak oleh Raden Fatah, Pondok Pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.

Pondok Pesantren yang mulai bersemai ini lalu semakin memiliki momentumnya ketika bersentuhan dengan zaman kolonial Belanda. Penindasan dan pengekangan yang dilakukan oleh Belanda terhadap masyarakat telah membuat kalangan Pesantren melakukan resistensi dan konsolidasi. Mereka menganggap bahwa penindasan dan penjajahan yang dilancarkan Belanda pada hakikatnya sama dengan perbudakan. Hal itu tidak sesuai dengan fitrah manusia, karena pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan merdeka. Semua manusia sama kedudukannya sehingga tidak ada yang berhak memperbudak siapa pun di belahan bumi ini.

Lebih jauh, resistensi kalangan Pesantren terhadap cengkeraman penjajah Belanda dimanifestasikan dalam tiga bentuk aksi.

Pertama, Pondok Pesantren melakukan ‘uzlah (pengasingan diri) ke desa-desa atau tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan suasana kolonial. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan Pondok Pesantren mengambil lokasi di desa-desa. Karena para kiai berpandangan bahwa di desa yang bersih dan sepi lebih aman karena relatif terpelihara dari aneka pengaruh moral dan kebudayaan luar yang cenderungan destruktif. Sikap ‘uzlah kalangan Pesantren ini masih bisa kita saksikan sampai sekarang. Pada umumnya, alumnus pesantren lebih suka hidup di desa yang sunyi dan tenteram ketimbang di kota yang penuh hingar-bingar keramaian dan kepalsuan.

Kedua, kalangan Pesantren bersikap non kooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain menelaah kitab-kitab kuning dan memperdalam pengetahuan agama, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Para kiai berfatwa bahwa membela agama dari ancaman eksternal termasuk bagian dari iman. Berikut ini adalah ungkapan berbahasa arab yang sangat populer di kalangan pesantren hingga saat ini

حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِیْمَانِ‎

Artinya :
“Cinta tanah air termasuk bagian dari iman”.

Bahkan lebih tegas lagi, kalangan pesantren melarang segala sesuatu yang berasal dari barat. Misalnya, para kiai melarang santri-santrinya mengenakan celana panjang, dasi, sepatu dan lain-lain yang dianggap sebagai pakaian Belanda (orang kafir yang pada saat itu sedang menjajah Indonesia). Mereka berdalil dengan sebuah hadis Nabi :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya :
“Barang siapa menyerupai suatu golongan maka ia termasuk golongan tersebut”

Ketiga, para kiai bersama-sama para santrinya tidak segan-segan melakukan perlawanan fisik terhadap Belanda. Dalam persepektif sejarah, Pondok Pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad untuk mengusir Belanda dari bumi pertiwi. Kita mengenal nama-nama besar seperti Pengeran Antasari, Karaeng Galesong, Sultan Hasanuddin, Sultan Agung, dan Ahmad Lucy (Patimura).

Perjuangan mereka pada hakikatnya merupakan manifestasi sikap muslim sejati yang tak rela menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan diperkosa dan dizalimi oleh kaum penjajah.

Secara umum, tujuan didirikannya Pondok Pesantren dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah untuk membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam serta sanggup dengan perangkat ilmu agamanya untuk menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar malalui ilmu dan amalnya. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi ahli ilmu agama serta mengamalkannya di tengah masyarakat.

Masih dalam soal tujuan Pondok Pesantren, KH. Hasyim Muzadi pernah menandaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, Pondok Pesantren berupaya melakukan sosialisasi ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh ulama-ulama salaf ke dalam tata nilai masyarakat lokal di samping juga menekankan pentingnya  pengamalan ajaran tersebut dalam praktek kehidupan sehari-hari maupun dalam acara-acara ritual khusus. Mulai dari ajaran yang bersifat ibadah murni seperti salat sampai pengetahuan mengenai hukum pidana-perdata dan tata negara, tak ada satupun yang luput dari concern pendidikan Pesantren.

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *