Webinar “Emmanuel Macron dan Islam di Prancis”, Kiai Azaim Ajak Umat Kritis

Dalam Webiner bertajuk “Emmanuel Macron dan Islam di Prancis”, Ahad malam (08/11), KHR. Ach. Azaim Ibrahimy selaku narasumber kedua, mengajak umat untuk kritis membaca berita.

“Pertama, saya mengapresiasi dan berterimakasih atas terselenggaranya webiner ini, mengingat, [1] pentingnya kita mengetahui secara utuh berita, [2] memilah beberapa berita yang mendekati nyata, fakta, validitasnya, dan [3] menentukan kemudian sikap kita seperti apa.”, demikian prolog Mudir Ma’had Aly Situbondo sekaligus penulis buku “Fiqh Aqalliyat” sebelum memulai materinya.

Mengetahui secara utuh sebelum merespon suatu persoalan adalah sikap ilmiah yang mesti dikedepankan. Sebab jika tidak, seperti beliau kemukakan, “Mungkin di awal pemberitaan yang bombastis, dengan disulut rasa cemburu, kita akan melakukan suatu aksi, suatu sikap, yang boleh jadi itu tidak menguntung bagi tampilan Islam.”

Di awal forum, Abd. Wahid, dosen Logika dan Ushul Fikih di Ma’had Aly Situbondo, selaku moderator, juga banyak memaparkan fakta, utamanya, tentang yang disampaikan Emmanuel Macron dalam pidatonya yang kelak memantik polemik. Ia mengutip Macron yang mengatakan,
“Islam adalah agama yang saat ini mengalami krisis di seuruh dunia.”

Kalimat inilah yang beredar luas di media, hingga akhirnya meyakinkan banyak pihak bahwa Presiden Prancis tersebut telah melecehkan Islam. “Tetapi,”, kata moderator, “perlu diingat (kalimat) itu adalah satu penggal dari pidato yang sangat panjang sekali.” Menurutnya, jika kita mau mendengar atau membaca seutuhnya, barangkali intensitas kemarahan kita, umat Islam, akan berkurang.

Selanjutnya, lelaki Madura nan fasih berbahasa Prancis ini  bagian menyitir bagian lain dari pidato Macron yang kemudian ia terjemahkan.

“Tantangan kita adalah melawan pelecehan yang dilakukan oleh sebagian orang atas nama agama, dengan memastikan bahwa mereka yang memeluk dan ingin percaya pada Islam serta ingin menjadi warga Republik kita dalam arti yang setia–maka mereka bukanlah sasaran dari Undang-Undang kita.”

Menurut telaah sang moderator, ada banyak hal dalam pidato Macron itu yang mengindikasikan kepedulian sang Presiden terhadap Islam. Antara lain, ia berjanji akan menyumbangkan sejumlah dana untuk mendukung inisiatif yayasan Islam di Prancis, baik dalam bidang budaya, sejarah, dan sains.

Berdasar fakta yang jarang diketahui khalayak ini, moderator merasa yakin bahwa Islam yang dimaksud Macron dalam pidatonya tidak seperti yang telah beredar di media dan diyakini banyak pihak. Ia menyatakan,
“Saya juga sangat yakin bahwa kalau pun dia telah menyakiti perasaan Muslim, tentu saja bukan Islam dalam pengertian ajaran yang suci, yang sakral, itu yang dia maksud.”

Senada dengan moderator, narasumber pertama, Muhammad al-Fayyadl, alumnus program Filsafat dan Kritik Budaya di Université Paris 8 Vincennes-Saint-Denis-Université de Vincennes à Saint-Denis, dengan tegas menyampaikan,

“Konten pidato Presiden Prancis itu hanya berkutat tentang persoalan hak kebebasan berekspresi, tidak ada unsur penghinaan terhadap Nabi ataupun Umat Muslim”.

Tentang boikot, seperti ungkap moderator, bahwa kedua narasumber “hanya berbeda tapi tidak bertentangan.” Kiai Azaim cenderung sepakat dengan aksi boikot sebagai bentuk “cari perhatian” dengan harapan akan ada tindak lanjut berupa diplomasi dan seterusnya. Tetapi beliau juga mengingatkan agar tindakan itu dilakukan dengan santun. “Yang terpenting terarah dan tidak anarkis.”, tambah beliau.

Sedang Gus Fayyadl menilai bahwa respons sementara kalangan dengan memboikot produk Prancis kurang tepat. Bahkan menurutnya, secara substansi, hal itu bisa merugikan umat Islam yang ada di Perancis. Baginya, boikot tak lebih sebagai letupan emosi.

Menjelang akhir forum yang diinisiasi oleh Ma’had Aly Situbondo itu, dengan nada guyon, Ketua Tanfidziyah PCI NU Prancis (2013-2014) ini, memohon agar tidak ikut diboikot lantaran ia juga produk (pendidikan) Prancis. “Kalau diboikot, nanti saya ndak bisa ke Ma’had Aly Sitobondo.” Sontak, candaannya disambut tawa para peserta.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *