Agama Itu Relasi

  • Penulis: Muhammad R. Azizi (Dosen Ma’had Aly)
  • Editor/Penyelaras Bahasa: Ahmad Rijalul Fikri (arfikrintb@gmail.com)

Ad-Diinu al-Mu’aamalah. Agama itu soal relasi. Ungkapan yang disinyalir sebagai hadis Nabi ini memang ada benarnya. Sebab, pada dasarnya agama memang hadir untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia bersama sesamanya. Tidak ada ajaran agama yang bukan muamalah. Malar-malar, ibadah pun sesungguhnya adalah muamalah. Makna lain dari mafhum ungkapan tersebut, bahwa agama itu hadir dalam relasi yang dikonstruk oleh manusia dan konstruksinya memengaruhi hukum-hukumnya. Artinya, hukum-hukum agama terjalin berkelindan dengan relasi yang dibuat oleh manusia.

Hukum dari sebuah tindakan bergantung relasi yang menggelinding dalam tindakan tersebut (الأحكام يتعلق بالعلاقات في الفعل). Taruhlah nikah dan zina sebagai contoh. Sebenarnya dua hal tersebut sama saja, sama-sama aktivitas penetrasi penis ke dalam vagina. Jika relasi keduanya tidak berakibat apa pun, keduanya tentu perkara yang bebas nilai. Hanya saja, oleh karena relasi yang ditimbulkan oleh zina dapat merendahkan perempuan serta mengabaikan tanggung jawab kemanusiaan, maka ia dilarang Tuhan (alias haram). Bahkan, nikah pun bisa saja memiliki hukum haram apabila relasinya mengakibatkan hal yang sama dengan zina. Dalam kitab-kitab fikih dijelaskan nikah hukumnya haram manakala dimaksudkan dalam rangka menyakiti perempuan atau semata mencicipinya sebagai objek seksual sambil bergonta-ganti pasangan.

Sebenarnya mencuri jua terbilang bebas nilai. Ia baru memiliki nilai (hukum) setelah relasinya tampak jelas. Ketika pencurian dilakukan oleh mangsa ketimpangan sistem ekonomi gegara tak mendapat haknya dalam tatanan masyarakat kapitalistik, maka si pelaku tidak bisa diganjar dengan hukuman maksimum, yakni sanksi had. Itulah mengapa sayidina Umar ra. tidak memberlakukan hukuman potong tangan saat tahun paceklik (aam al-majaa’ah) melanda beliau dan masyarakatnya tempo itu. Pun Ibnu Hazm ditengarai pernah berpendapat mengenai orang yang mencuri harta wong kaya karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya, kemudian tertangkap dan diamuk massa hingga tewas, adalah tergolong sebagai orang yang mati syahid.

Lantaran agama sangat terikat dan hukumnya dipengaruhi oleh relasi di tengah-tengah manusia, maka dalam beragama seseorang mesti memperhatikan relasinya. Jangan atas dalih menjalankan ajaran agama lantas mengabaikan ketertiban bersama. Semisal salat, meskipun diperintah agama, tetap tidak boleh ditunaikan di jalan raya karena itu dapat mengganggu kenyamanan bersama. Lain lagi mengumandangkan azan, walaupun itu anjuran agama, tetap kudu memperhatikan kenyamanan bersama. Juga seperti berpoligami, betapa pun ia diperjuangkan mati-matian sebagai salah satu ajaran agama, tidak etis diperlakukan selaku entitas satu-satunya, sehingga dalam pengamalannya variabel (faktor, Ed) lain di luar itu dibenamkan dari domain ‘ajaran agama’.

Mujtahid, hakim, atau mufti bukanlah sosok yang hanya duduk di belakang meja dengan palu di tangan kanan dan kitab suci—atau ‘disucikan’—di tangan kiri sembari menunggu kedatangan masyarakat yang meminta jawabannya atas persoalan mereka. Sang mufti bukanlah serupa sosok ustad yang viral di medsos yang menjawab ragam pertanyaan tanpa mengindahkan kemajemukan kondisi psiko-sosio-politik dan latar ekonomi para warganet atau jamaahnya. Pun seorang mujtahid tak sekadar yang mumpuni menghukumi, tetapi juga cakap memahami relasi dari sesuatu yang ia hukumi. Kalau semata cakap menghukumi, tak perlu repot-repot menjadi mujtahid. Cukup jadi netizen, seseorang sudah ahli menghukumi. Biangnya, keahlian memang tidak dibutuhkan di dunia medsos (the death of expertise–atau terjadi mortalitas keahlian di sana, sebagaimana tajuk bukunya Tom Nichols, Ed). Maka dari itu, tidak berlebihan bilamana dikatakan bahwa bersikap kaku terhadap teks-teks agama dalam menghukumi seraya lengah sama variabel-variabel kasus yang dihukumi termasuk tindakan malpraktik beragama (الجمود على المنقولات بغض النظر على العلاقات الإنسانية ضلال في الدين).

Seantero insan yang sedang konsentrasi tafaqquh fi ad-diin, semacam santri Ma’had Aly, tidak cukup hanya dibekali ilmu-ilmu normatif karena pada ujungnya ilmu-ilmu tersebut sebatas membekali mereka dalam menghakimi. Selayaknya, mereka juga butuh asupan ilmu-ilmu sosial (setidaknya, teori-teori sosial) guna mampu memahami relasi di dunia yang akan mereka hukumi. Bagaimana mungkin seseorang dapat menghukumi padahal ia tidak cakap dalam memahami. Bukankah dalam menilai sesuatu, seseorang harus memahami sesuatu itu terlebih dahulu (الحكم عن الشيء فرع عن تصوره)?

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *