Empat Syarat Wajib Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar.

Suatu hal yang telah menjadi keyakinan seluruh kaum muslimin bahwa misi Islam adalah raḥmatan lil ‘alamīn; merahmati alam semesta. Cita-cita Islam untuk mewujudkan kemaslahatan, kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian dan keadilan tidak hanya diarahkan kepada kaum muslimin sebagai pemeluknya, tetapi juga kepada seluruh umat manusia.

Keyakinan yang sekaligus ungkapan yang sering dinyatakan itu bukanlah jargon kosong yang tidak punya bukti dan dalil. Bukti dan dalilnya amat jelas ketika agama ini diberi kesempatan untuk diterapkan  dalam dunia nyata. Bahkan bukti-bukti itu bisa dilihat oleh setiap orang yang dengan insaf dan jujur mau membaca atau mengkaji ajaran-ajaran Islam yang mempunyai dimensi akidah, akhlak dan hukum-hukum praktis (aturan-aturan praktis yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan yang mengatur hubungan antar sesama manusia).

Sebagai contoh kongkrit, di bawah ini kami kemukakan beberapa prinsip Islam terkait dengan tatanan kemasyarakatan, baik yang bersifat lokal, regional maupun internasional. Yaitu :

Prinsip Karomah Insāniyah (manusia sebagai makhluk terhormat)

وَلَقَدْ كَرَّمْنا بَنِي آدَمَ

Artinya : “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (Qs. al-Isrā’ : 70)

Prinsip Musāwah Kāmilah (kesetaraan yang sempurna) diantara umat manusia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

Artinya : “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” (Qs. al-Hujurāt : 13)

Prinsip ‘Adalah (keadilan)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu” (Qs. al-Nisā’ : 135)

Prinsip Hurriyah (kemerdekaan/kebebasan)

متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم أحرارا

Artinya : “Akankah kalian akan memperbudak manusia, sedang ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan bebas(bukan budak)?” (Sayyidina Umar bin Khottob)

Prinsip Tahrīm al-‘Udwan (larangan permusuhan)

فَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيْنَ

Artinya : “Tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim” (Qs. al-Baqarah : 135)

Prinsip Tahrīm al-Dzulm (larangan berlaku zalim)

يَا عِبَادِيْ ! إِنِّـيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَـى نَفْسِيْ ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَـكُمْ مُحَرَّمًا ؛ فَلاَ تَظَالَـمُوْا

Artinya : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian” (HR. Turmudzi dan Ibnu Mājah)

Prinsip tolong menolong dalam kebaikan

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ

Artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (Qs. Māidah : 2)

Misi Islam yang mulia dan agung tersebut, agar supaya terwujud secara optimal memerlukan beberapa hal yang paling pokok. Di antaranya adalah :

A. Dukungan kamum muslimin sendiri.

Dukungan yang dimaksud di sini adalah;

Pertama adalah dalam bentuk pemahaman umat Islam tentang agama ini. Sebab ketidaktahuan atau kesalahpahaman umat tentang ajaran agamanya sangat tidak menguntungkan bahkan bisa menjadi bumerang bagi agama itu sendiri.

Kedua, adalah dukungan dalam bentuk pengamalan. Karena apalah artinya pemahaman tanpa pengamalan.

B. Adanya kekuatan protektif yang melindungi dan menjamin terlaksananya ajaran Islam. Kekuatan ini ada dua bentuk :

Pertama, Perupa adanya aturan hukum yang jelas dan penegakan hukum yang tegas. Ketentuan hukum dan hukuman dalam Islam sangat jelas bahkan terlihat sangat keras. Sehingga kadang dipahami secara salah bahwa Islam identik dengan kekerasan. Padahal semua tahu bahwa hukuman yang keras bukanlah tujuan. Karena ia dilakukan ketika harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan yang jauh lebih besar dengan efek yang sangat besar pula. Soal penegakan hukum masih menjadi sebuah persoalan yang selalu dipersoalkan.

Kedua, Jihād fī sabīlillāh, yaitu mencurahkan segala kemampuan berupa pikiran, jiwa, tenaga dan harta untuk mewujudkan kemaslahatan, menegakkan kebenaran, keadilan, memberantas kebodohan, kemiskinan, kejahatan, kezaliman, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan, baik yang personal, sosial maupun yang sistemik. Jihād Qitālī (jihad dalam bentuk perang) juga diizinkan dalam Islam ketika telah menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan kebenaran atau memberantas kejahatan, namun dengan menggunakan cara-cara yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan tidak menodai karomah insāniyah. Maka kaum muslimin harus berijtihad (berikhtiyar) di dalam memilih cara-cara jihad.

C.  Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Setiap muslim mempunyai dua kewajiban; 1) berbuat yang baik dan meninggalkan yang jelek, 2) menyuruh orang lain agar melakukan yang baik dan meninggalkan yang jelek. Dengan ungkapan lain, setiap muslim tidak hanya dituntut menjadi orang ṣāleḥ (baik) yang hidup dalam lingkungannya tanpa memperdulikan orang lain, tetapi juga dituntut menjadi muṣliḥ (yang memperbaiki orang lain). Antara dua kewajiban ini tidak ada hubungan saling menggugurkan, sehingga orang yang sudah tidak bisa memperbaiki diri sendiri tetap dituntut memperbaiki orang lain. orang yang pekerjaannya mencuri, misalnya, tetap berkewajiban melarang orang lain dari melakukan pencurian.

Bahwa setiap muslim mendapat beban melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang dalam istilah lain disebut taghyīr al-munkar (mengubah kemungkaran) didasarkan pada hadis riwayat Muslim

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya : “Barang siapa melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu, ubahlah dengan hatinya. Dan itulah paling lemahnya iman” (HR. Muslim)

Namun begitu, tugas taghyir al-munkar baru menjadi kewajiban yang benar-benar harus dilaksanakan bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

PertamaApa yang diasumsikan sebagai mungkar harus berupa perkara haram yang mengacu pada dalil yang tegas. Jadi bukan perkara yang keharamannya masih diperdebatkan.

Kedua. Perkara mungkar yang hendak diberantas harus tampak dan terlihat. Oleh karena itu orang muslim sebagai pribadi tidak perlu melakukan tajassus (kegiatan mata-mata), misalnya dengan meletakkan perangkat kamera yang disembunyikan untuk mengungkap kegiatan mungkarāt yang sengaja disembunyikan oleh para pelakunya. Ini artinya bahwa Islam cenderung menyerahkan hukuman terhadap pelaku mungkarat secara sembunyi kepada Allah SWT nanti di akhirat. Bahkan dalam hadits dikatakan :

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافىً إلا المُجاهِرُونَ

Artinya : “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujāhirīn (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa”

KetigaOrang yang hendak memberantas kemungkaran harus mempunyai kekuatan, baik mental maupun material yang memungkinkan dia untuk menghilangkan kemungkaran secara mudah.

Keempat. Pemberantasan mungkar tidak dikhawatirkan menimbulkan mungkar yang lebih besar. Seperti timbulnya fitnah dimana-mana, pertumpahan darah, penjarahan dan lain-lain.

Oleh :
KH. Afifuddin Muhajir.
(Naib Mudir Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *