Hukum Kredit Emas, Riba?

Untuk menjawab pertanyaan ini, simak hadis shahih riwayat Imam Muslim berikut:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Artinya : “Jika emas (dijual) dengan emas, perak (dijual) dengan perak, gandum dijual dengan gandum, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barangnya berbeda maka silahkan engkau jual sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai)”

Hadis ini menjadi dalil bahwa emas dan perak masuk kategori barang ribawi yang berpotensi melahirkan akad riba.

Riba sendiri keharamannya telah “muj’ma’ ‘alaih”. Artinya, siapa saja mengingkarinya berarti label muslim telah tanggal darinya.

Oleh karena termasuk barang ribawi maka jual-bel emas dan perak memiliki SOP tersendiri sebagai tambahan dari syarat dan rukun jual-beli yang sudah berlaku umum pada barang-barang non-ribawi. Berdasarkan hadis di atas, SOP yang dimaksud adalah

  1. “Tamātsul” : takaran atau ukuran barang harus setara.
  2. “Taqābut” : jual beli harus cash dari kedua belah pihak di majlis akad.
  3. ulūl” : Tidak boleh bertempo (ajal) dan pesanan (salam)

Ketiga SOP ini harus diikuti apabila barang yang diperjual-belikan adalah barang ribawi yang sejenis, misalkan emas dengan emas atau kurma dengan kurma. Namun apabila jenisnya berbeda, misalkan emas dengan perak, atau kurma dengan gandum maka cukup SOP nomor dua dan tiga saja, tanpa nomor satu.

SOP ini harus diikuti supaya tidak terjerambab dalam riba yang diharamkan.

Lalu bagaimana kalau emas diperjualbelikan dengan uang, Apakah terikat oleh tiga SOP tersebut?

Atau justru tidak terikat sama sekali?

Untuk menjawabnya dipastikan dahulu apakah uang termasuk barang ribawi atau tidak?

Satu pendapat dari Ibnu Hazm (gologan tektualis) mengatakan bahwa barang ribawi terbatas pada barang-barang yang telah disebutkan dalam hadis, tidak mencakup barang lainnya.

Dengan demikian, No Problem jual beli emas dengan rupiah walau secara redit. (al-Mualla libni Hazm, Vol. VII/403)

Berbeda dengan Ibnu Hazm, jumhur ulama kompak berpendapat bahwa jenis barang ribawi bisa berkembang. Berkembang mencakup benda lainnya senyampang benda yang dimaksud dipertemukan oleh “illat” (alasan logis sebuah hukum) yang sama. Bilamana “illat” telah diketahui maka cakupan kategori barang ribawi bisa menyebar kepada benda-benda lainnya.

Para mujtahid usuliy mengatakan;

يُشترط في إلحاق الجزئي بالجزئي الآخر أن يكون بالجامع الذي هو علة الحكم

Artinya : “Satu kasus hukum bisa disamakan hukumnya dengan kasus lainnya bilamana keduanya memiliki titik temu, yakni illat hukum”

Terkait illat emas dan perak disebut barang ribawi, ulama beda pendapat.

Pendapat Pertama mengatakan, illat (alasan) emas dan perak disebut barang ribawi karena keduanya ditimbang (al-waznu). Dengan demikian, barang-barang sejenis yang ditimbang seperti besi, tembaga, dan lainnya masuk dalam kategori barang ribawi. (al-Ikhtiar; II/283, Mughni, IV/05)

Pendapat Kedua mengatakan, illat emas dan perak masuk kategori barang ribawi karena keduanya dijadikan sebagai mata uang yang memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh alat tukar lainnya (ghalabah tsamaniah). Istimewa karena bahan bakunya berupa emas atau perak. Uang yang terbuat dari emas dan perak yang kemudian familiar dengan sebutan dinar dan dirham menjadi lebih istimewa karena keduanya bernilai dari sisi nominal dan bahan baku. Beda dengan uang kertas atau logam (fulus) saat ini yang hanya memiliki nilai nominal saja. Kalau uangnya disobek, habis sudah! tidak berharga. (Raudah al-Ṭālibīn;III/80, al-Inshaf; V/12)

Pendapat Ketiga mengatakan, illat ribawi emas dan perak karena keduanya dijadikan sebagai mata uang secara mutlak (tsamaniah muthlaqah). Artinya, uang dinar dan dirham tidak dilihat dari bahan bakunya dari emas dan perak, melainkan keduanya murni dilihat dari fungsinya sebagai alat tukar dan fungsinya sebagai alat untuk menakar nilai dari suatu barang. Illat ini tentu terdapat pada mata uang zaman sekarang, termasuk rupiah.

Oleh sebab itu, semua benda yang dijadikan sebagai mata uang, apapun bahan bakunya masuk dalam kategori barang ribawi. (syarh al-kharsy ‘ala al-khalil; V/56, ‘ilamu al-muwaqi’in; II/105)

Dari tiga pendapat prihal illat ribawi emas dan perak di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa uang tidak termasuk barang ribawi jika ikut pendapat pertama dan kedua sehingga berkonsekwensi hukum kepada boleh membeli emas denga uang rupiah secara kredit. (Raudha Thalibin; III/380, Kasyful Qina’;III/264 )

Namun apabila ikut pendapat yang ketiga, maka beli emas denga uang harus ulūl dan taqābud, alias tidak boleh kredit.

Namun perlu diingat kembali bahwa emas dan perak yang dimaksud dalam hadis dan pembahasan di sinilah adalah emas dan perak yang dijadikan sebagai alat tukar. Apabila fungsi emas dan perak sebagai mata uang atau alat tukar sudah tidak ditemukan lagi, maka illat sebagai barang ribawi sudah hilang. Faktanya saat ini, emas dan perak tidak lagi dijadikan sebagai mata uang melainkan sebagai komiditi (سلعة). Dengan demikian, jual beli emas secara kredit hukumnya boleh.

kaidah usul fiqh mengatakan,

الحكم يدور مع العلة وجوداً وعدماً

Artinya : “Perubahan hukum mengikuti eksistensi illatnya”.

Wallāhu ‘alam bi al-awāb

Sekian, terimakasih

Oleh :
Ustaz Dony Ekasaputra, M.HI.
(Dosen sekaligus Kasubag. Penelitian dan Publikasi di Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *