Obrolan Bersama Prof. Ibrahim Hudhud (2)

Tentu saja saya merasa lancang kalau membeberkan apa yang beliau sampaikan dalam orasi-orasi beliau di sini. Biarlah itu dilakukan oleh panitia dari P2S2 Sukorejo yang dipenuhi oleh para fuqaha kaliber nasional bahkan internasional, atau oleh Ustadz Ali Irham sebagai pendamping beliau.
Saya hanya ingin bercerita obrolan santai kami di Dalem Pengasuh, Hadhratul Mukarram Kyai Azaim Ibrahimi … bersama ananda Yaqzhan Elkiya Muhammad Shah yang ikut mendengarkan.

Saat itu saya matur kepada beliau bahwa para Kyai yang hadir merasakan bahwa perlu ada revitalisasi di metode pendekatan terhadap ilmu-ilmu alat keislaman seperti Ilmu Nahwu dan Balaghah, karena merasa bahwa pesantren secara umum berhasil mencetak ulama yang menguasai kedua ilmu tersebut tapi tidak berhasil mengaktualkannya atau menerapkannya. Dan Mereka merasakan bahwa “gaya pendekatan beliau terhadap teks dan realitas” dengan menggunakan analisis linguistik dan semiotika Arab adalah salah satu prototipe percontohan yang diimpikan selama ini: mempunyai akar tradisional yang kuat tetapi tetap progresif, aktual, bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di masa kini. Menampilkan Islam yang ramah tapi tidak REMEH!

Beliau menjawab: saya tidak punya jawaban lain kecuali kembali kepada tradisi, menggali dan menguasai ilmu-ilmu ulama klasik dengan pendekatan yang menggabungkan antara rasio yang cerah dan mencerahkan serta intuisi / hati yang hidup hingga mampu menghidupkan.
Saya pun menukas: sebagian orang mengatakan ilmu-ilmu klasik hanya berisikan tumpukan postulat yang stagnatis, kembali ke turats /legasi klasik hanya akan membekukan otak!

Beliau menjawab: Ilmu-ilmu klasik seperti Nahwu, Balaghah, Ilmu Kalam, Ushul Fikih dan lain-lain bukanlah tumpukan postulat atau kaidah-kaidah pemikiran yang stagnatis. Sama sekali bukan! Itu adalah metodologi pemikiran yang seharusnya bisa menjadi alat analisis yang hebat. Di sini ada dua masalah: yang pertama orang berilmu tapi tak mampu menggunakan ilmunya (menerapkannya dalam realitas kekinian), dan yang kedua adalah masalah yang lebih besar, yaitu orang tidak berilmu akhirnya berpikir serampangan tak bisa dipertanggungjawabkan! Untuk itu perlu ada reaktualisasi ilmu-ilmu Islam dalam konteks kontemporer… saya misalnya (sebagai guru besar Ilmu Balaghah dan Kritik Sastra) menyadari bahwa para mahasiswa masa kini mempunyai kebutuhan khusus, tidak cukup yang namanya kitab klasik itu disajikan mentah-mentah. Mahasiswa asing non Arab juga mempunyai kebutuhan khusus. Untuk itu saya telah menyiapkan dua buah buku yang menjelentrehkan postulat-postulat Ilmu Balaghah Klasik untuk non Arab, sehingga mereka tidak hanya hafal kaidah dan menguasai ilmu, tapi bisa merasakan keindahan teks-teks kitab suci kita juga memahami maksudnya dengan baik, hingga bisa mudah menerapkannya dalam konteks kekinian dan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

 

DR. KH. Muhammad Aun al-‘abid.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *